Sabtu, 12 September 2015

Resensi Novel
Mimpi Anak Pulau


Saat ini novel biografi telah menjadi bagian dari tren karya populer, termasuk Mimpi Anak Pulau ini. Cerita yang tertera diangkat dari kisah nyata seorang bernama Abdul Gani Lasa, anak Batam yang sukses mengarungi perjalanan hidup berliku demi menggapai cita-citanya.

Tokoh dalam cerita ini, Gani Lasa adalah anak pesisir yang setiap hari selalu bersama laut. Rumahnya panggung di tepi pantai. Masa kecil dihabiskan di pantai dan  laut (hlm. 40). Hal itu merupakan gambaran kondisi Batam sebelum berkembang menjadi kota metropolis seperti sekarang. Gani terlahir dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tetapi, dia tidak pantang menyerah menggapai mimpi.

Dengan susah payah, Gani akhirnya bisa melanjutkan kuliah ke Yogyakarta  bermodalkan uang hasil tabungan yang kemudian dibelikan empat selimut dan dua petromak untuk dijual kembali setiba di kota gudeg (hlm. 211). Gani termasuk pekerja keras. Ia rela merantau ke Yogyakarta juga untuk mengejar mimpinya.

Yogyakarta merupakan awal mula kisah dalam novel ini. Suatu ketika dia ngobrol dengan Muhammad mengisi kekosongan karena teman-teman mereka pulang kampung. Gani lantas menceritakan kehidupannya di Batam, termasuk tentang kisah cintanya dengan Asmarani, semasa di bangku PGA di Tanjung Pinang.

Dalam sepucuk surat cintanya, Gani menulis, “Jika matahari tak bersinar di matamu, aku seakan kembali ke masa lalu, masa silam yang jauh, sebatang kara tanpa teman di dunia fana. Namun, tahukah engkau, Rani, Jika sekalinya kau muncul dengan purnama di senyummu, tiba-tiba aku terbang melayang menuju hari depan. Bersama senyummu, rasanya dunia begitu mudah kuraih dalam genggaman” (hlm. 183).

Tetapi, cinta mereka  kandas karena  Asmarani dikeluarkan dari sekolah lantaran  berpacaran dengan Gani yang saat itu sedang duduk di bangku akhir dan bersiap ujian. Gani terpukul dan lebih-lebih dengan Asmarani. Untungnya peristiwa itu tidak sempat mengganggu ujian akhirnya. Ia lulus serta akhirnya bisa melanjutkan kuliah di  Yogyakarta.

Di kota pelajar, perjuangan tidak kalah rumit. Ia harus bekerja sampingan untuk menambah uang jajan. Gani jarang pulang ke Batam karena tak ingin menambah beban  orangtua. Masa-masa liburan dihabiskan untuk kerja sampingan. Usai ujian akhir setelah tujuh tahun kuliah, Gani hendak pulang ke Batam. Dia menyempatkan diri  mampir ke rumah kekasih pengganti Asmarani, Norjannah.

Beruntung bagi Gani karena ternyata niatnya meminang Norjannah, wanita asal  Tasikmalaya, sungguh tak disangka. Sebab pinangannya  malah langsung diikuti pernikahan karena orangtua Norjannah ingin langsung menikahkan. Norjannah menjadi motivasi Gani untuk  meraih mimpi.

Ia pun akhirnya bekerja pada Otorita Batam dan jenjang karirnya terus meningkat. Mimpi Gani untuk turut berkontribusi pada pembangunan daerah terwujud, meski penuh liku. Baginya, sumbangsih pada pembangunan negeri adalah bagian dari cinta tanah air. “Aku kini Melayu, jiwa ragaku Indonesia, dan Bugis dalam darahku adalah takdir Tuhan,” (hlm. 85).

Novel ini bisa menginspirasi dan memotivasi. Setiap drama yang dihadirkan  menarik, dibumbui romantisme, perjuangan hidup, dan pergumulan saat karir Gani sedang menanjak.

Jumat, 11 September 2015

Resensi Novel
Hujan dan Teduh
Wulan Dewatra


Kepadamu, aku menyimpan cemburu dalam harapan yang tertumpuk oleh sesak dipenuhi ragu.

Membaca novel ini membuatku agak sedikit tercengang membacanya. Berisi tentang kisah percintaan remaja jaman sekarang yang penuh dengan hal terlarang.

Terlalu banyak ruang yang tak bisa aku buka. Dan, kebersamaan cuma memperbanyak ruang tertutup. Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan. Ya jalanmu dan jalanku. Meski, diam-diam, aku masih aaja menatapmu dengan cinta yang malu-malu.

Kisah cinta terlarang antara Bintang dan Kaila saat SMA. Membuat mereka berdua harus mencintai diam-diam dan menutupnya rapat-rapat.

Masih dengan kehidupan Bintang. Yang berlanjut ke bangku kuliah, mempertemukannya dengan Noval. Kali ini cinta Bintang kepada Noval tidak terlarang seperti cintanya kepada Kaila. Namun ada kegiatan-kegiatan terlarang yang dilakukan oleh Bintang bersama Noval yang meng-atasnama-kan cinta.

Noval yang tiba-tiba berubah posesif saat Noval sudah berhasil mendapatkan kesucian Bintang, membuat Bintang selalu menuruti kemauan Noval. Sekalipun saat hubungan terlarang mereka membuahkan janin di rahim Bintang, Bintang menuruti permintaan Noval untuk menggugurkan buah cinta mereka. Dan menyebabkan rahimnya infeksi dan harus diangkat.

Akhir ceritanya agak menggantung. Tidak jelas apakah Bintang kembali menerima Noval atau tidak. Tapi Kaila jelas-jelas memutuskan untuk meninggalkan Bintang selamanya. Seperti yang digambarkan dalam sinopsisnya.

Aku dan kamu, seperti hujan dan teduh. Pernahkah kau mendengar kisah mereka? Hujan dan teduh ditakdirkan bertemu, tetapi tidak bersama dalam perjalanan. Sepertu itulah cinta kita. Seperti menebak langit abu-abu.
Mungkin, jalan kita tidak bersimpangan.

Novelnya ringan dengan cerita yang sudah biasa terjadi di sekitar kita. Jalan cerita yang menggambarkan realita gaya pacaran anak jaman sekarang yang sangat mengkhawatirkan. Tapi menjadi sangat menarik ketika Wulan Dewatra menyuguhkan sosok Bintang yang begitu hebat dimata saya karena ketegarannya.

Tidak heran kenapa novel ini biasa menjadi juara pertama di perlombaannya, selain menyuguhkan karakter Bintang yang kuat, penulis juga menyuguhkan alur cerita yang unik. Dalam satu bab terdapat 2 alur, maju dan mundur, yaitu saat Bintang di SMA bersama Kaila dan saat Bintang di bangku Kuliah bersama Noval.

3/5 bintang
Resensi Novel
Sabtu Bersama Bapak
Adhitya Mulya



Video mulai berputar.
"Hai, Satya! Hai, Cakra!" Sang Bapak melambaikan tangan.
"Ini Bapak.
Iya, bener kok, ini Bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.
...
Mungkin Bapak tidak dapat duduk dan bermain di samping kalian.
Tapi, Bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan Bapak di samping kalian.
Ingin tetap dapat bercerita kepada kalian.
Ingin tetap dapat mengajarkan kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak pernah perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don't let death take these, away from us.
I don't give death, a chance.
Bapak ada disini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian."
----
Ini adalah sebuag cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan..., tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

*
Sesuai sinopsisnya, novel ini bercerita tentang seorang pemuda yang mencari cinta, seorang pria yang belajar menjadi bapak yang baik, seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih, dan seorang bapak yang berjanji selalu ada untuk keluarganya.

Novel yang teramat sangat bagus. Beda dari novel lain kebanyakan. Biasanya novel-novel berkisah tentang percintaan. Namun novel ini bercerita tentang keluarga.

Sangat disarankan untuk membaca novel ini. Terutama untuk laki-laki yang hendak menikah. Karena didalam novel ini banyak tuntunan agar bisa belajar menjadi suami dan bapak yang baik untuk keluarga.

Contohnya :

Saat Cakra diminta mamahnya untuk segera menikah.

"Istri yang baik gak akan keberatan diajak melarat."
"Iya sih. Tapi, mah, suami yang baik tidak akan tega mengajak istrinya untuk melarat."

Atau saat Satya memiliki harapan yang begitu besar kepada Ryan, anak sulungnya.

"Menjadi panutan bukan tugas anak sulung kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orang tua untuk semua anak."

Dan juga saat Cakra menasihati mahasiswa yang sedang magang di kantornya.

"Prestasi akademis yang baik bukan segalanya tapi memang membukakan lebih banyak pintu untuk memperlihatkan kualitas kita yang lain."

Benar-benar memberikan banyak pelajaran dalam berbagai aspek kehidupan yang kadang tidak kita sadari.

Setuju banget kalau novel ini dibikin film. Sangat mendidik. 5/5 bintang

Rabu, 09 September 2015

Resensi Novel

Pasangan Labil
Paramita Swasti Buwana
2014
207 halaman
Editor : Afrianty P.Pardede
ISBNP : 978-602-02-5607-8
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Harga : 38.000

Disebut-sebut sebagai pasangan yang tidak akan pernah akur di kampus, membuat Dira dan Angga harus menutupi pernikahan yang sudah mereka jalani selama beberapa bulan ini. Peran 'musuh seumur hidup' itu harus dilaksanakan sebaik mungkin, mengingat status mereka juga masih menjadi anak sekolahan. Jangan sampai status menikah inu mengakibatkan salah satu dari mereka tidak bisa meraih impiannya. Melakoni status sebagai musuh di kampus dan melaksanakan tanggungjawan sebagai suami/istri ternyata sangat menguras emosi. Tapi bagaimana jadinya jika ternyata Dira malah hamil? Atau Dira dijodohkan oleh sahabatnya dengan oranglain? Belum lagi kesalahpahaman lain yang membuat keduanya merasakan cemburu satu sama lain.

***
Novel yang menarik untuk dibaca.
Dari segi cover, terlihat bahwa novel ini diperuntukan bagi kalangan anak remaja kisaran SMA. Dari gaya bahasa yang dipakai-pun ringan, terlihat bahwa novel ini memang diperuntukan bagi kalangan anak SMA. Tapi jika dibaca isinya, banyak kalimat-kalimat yang justru menggambarkan adegan-adegan yang dilakukan orang dewasa. Meskipun memang dari deskripsi sudah dijelaskan bahwa mereka pasangan yang sudah menikah.

Alur cerita yang digunakan jelas, alur maju. Susunan kalimat demi kalimat sistematis. Hanya saja, banyak kalimat yang digunakan menggunakan bahasa gaul ala anak ABG seperti penempatan kata 'masa' diakhir kalimat. Sehingga saya perlu membaca ulang dialognya agar bisa mengerti maksud percakapannya.

Dan yang paling saya suka, ceritanya berakhir happy ending. Tapi menurut saya, Dira memang agak konyol. Memberikan nama untuk anak laki-lakinya dengan nama laki-laki yang menjadi saingan suaminya. Hehe..

Saya kasih 3 bintang dari 5 bintang untuk novel ini