Resensi Novel
Mimpi Anak Pulau
Saat ini novel biografi telah menjadi bagian dari tren karya populer, termasuk Mimpi Anak Pulau ini. Cerita yang tertera diangkat dari kisah nyata seorang bernama Abdul Gani Lasa, anak Batam yang sukses mengarungi perjalanan hidup berliku demi menggapai cita-citanya.
Tokoh dalam cerita ini, Gani Lasa adalah anak pesisir yang setiap hari selalu bersama laut. Rumahnya panggung di tepi pantai. Masa kecil dihabiskan di pantai dan laut (hlm. 40). Hal itu merupakan gambaran kondisi Batam sebelum berkembang menjadi kota metropolis seperti sekarang. Gani terlahir dalam keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tetapi, dia tidak pantang menyerah menggapai mimpi. Dengan susah payah, Gani akhirnya bisa melanjutkan kuliah ke Yogyakarta bermodalkan uang hasil tabungan yang kemudian dibelikan empat selimut dan dua petromak untuk dijual kembali setiba di kota gudeg (hlm. 211). Gani termasuk pekerja keras. Ia rela merantau ke Yogyakarta juga untuk mengejar mimpinya. Yogyakarta merupakan awal mula kisah dalam novel ini. Suatu ketika dia ngobrol dengan Muhammad mengisi kekosongan karena teman-teman mereka pulang kampung. Gani lantas menceritakan kehidupannya di Batam, termasuk tentang kisah cintanya dengan Asmarani, semasa di bangku PGA di Tanjung Pinang. Dalam sepucuk surat cintanya, Gani menulis, “Jika matahari tak bersinar di matamu, aku seakan kembali ke masa lalu, masa silam yang jauh, sebatang kara tanpa teman di dunia fana. Namun, tahukah engkau, Rani, Jika sekalinya kau muncul dengan purnama di senyummu, tiba-tiba aku terbang melayang menuju hari depan. Bersama senyummu, rasanya dunia begitu mudah kuraih dalam genggaman” (hlm. 183). Tetapi, cinta mereka kandas karena Asmarani dikeluarkan dari sekolah lantaran berpacaran dengan Gani yang saat itu sedang duduk di bangku akhir dan bersiap ujian. Gani terpukul dan lebih-lebih dengan Asmarani. Untungnya peristiwa itu tidak sempat mengganggu ujian akhirnya. Ia lulus serta akhirnya bisa melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Di kota pelajar, perjuangan tidak kalah rumit. Ia harus bekerja sampingan untuk menambah uang jajan. Gani jarang pulang ke Batam karena tak ingin menambah beban orangtua. Masa-masa liburan dihabiskan untuk kerja sampingan. Usai ujian akhir setelah tujuh tahun kuliah, Gani hendak pulang ke Batam. Dia menyempatkan diri mampir ke rumah kekasih pengganti Asmarani, Norjannah. Beruntung bagi Gani karena ternyata niatnya meminang Norjannah, wanita asal Tasikmalaya, sungguh tak disangka. Sebab pinangannya malah langsung diikuti pernikahan karena orangtua Norjannah ingin langsung menikahkan. Norjannah menjadi motivasi Gani untuk meraih mimpi. Ia pun akhirnya bekerja pada Otorita Batam dan jenjang karirnya terus meningkat. Mimpi Gani untuk turut berkontribusi pada pembangunan daerah terwujud, meski penuh liku. Baginya, sumbangsih pada pembangunan negeri adalah bagian dari cinta tanah air. “Aku kini Melayu, jiwa ragaku Indonesia, dan Bugis dalam darahku adalah takdir Tuhan,” (hlm. 85). Novel ini bisa menginspirasi dan memotivasi. Setiap drama yang dihadirkan menarik, dibumbui romantisme, perjuangan hidup, dan pergumulan saat karir Gani sedang menanjak. |



